Sabtu, 28 Juni 2014

Motivasi Andrie Wongso : Kisah Pohon Apel

Kali ini SANG MUJUR akan share sebuah artikel dari seorang motivator senior Indonesia yaitu Bapak Andri Wongso. Beliau pernah memberikan sebuah kisah berjudul Kisah Pohon Apel bahkan banyak orang yang telah membuatkan animasi videonya. Kisah ini tentang pohon apel dan seorang anak kecil. Pohon apel adalah gambaran Orang Tua kita. Dan anak kecil itu adalah kita. Berikut kisahnya:

KISAH POHON APEL
Di sebuah desa ada seorang anak kecil yang sering bermain dengan pohon apel. Anak kecil itu suka sekali memanjat pohon apel, memetik buahnya lalu memakannya, dan juga sering kali dia tertidur di bawah pohon apel itu. Pohon apel pun sangat bahagia akan kehadiran anak itu.

Waktu terus berlalu, anak kecil itu pun mulai tumbuh, kemudian dia semakin jarang menemui pohon apel. Pohon apel itu mulai merasa kesepian dan mulai merindukan kehadiran anak kecil itu. Setelah beberapa waktu berlalu, tiba-tiba anak kecil itu pun datang menemuinya.Namun kali ini raut wajahnya tampak suram. Pohon apel pun menyapanya dengan bahagia.
Pohon Apel : Hai.... Ayo kemari. Mari kita bermain-main lagi. Naiklah ke dahanku dan makanlah buah apelku.
Anak Kecil : Aku sedang sedih dan tidak mau bermain lagi.
Pohon Apel : Kenapa kamu sedih?
Anak Kecil : Aku ingin mainan baru, tapi aku tidak punya uang.
Pohon Apel : Maaf, aku pun juga tidak punya uang. Tapi aku punya buah apel. Ambilah semua dan jualah, untuk kamu belikan mainan yang kamu inginkan.
Anak Kecil : Benarkah? Baiklah akan segera aku petik semua buahmu.
Pohon apel itu sangat bahagia saat melihat anak kecil itu bergembira saat memetik buah apelnya. Setelah buah apel telah habis dipetik, anak kecil itu pun pergi meninggalkan pohon apel. Tapi pohon apel bahagia melihat wajah dari anak kecil itu. Kemudian setelah kejadian itu, anak kecil tidak lagi mengunjunginya lagi. Pohon apel merasa kesepian dan sedih merindukan anak kecil itu.

Setelah sekian lama anak kecil yang tumbuh mendewasa kembali muncul dengan wajah muramnya. Namun disambut oleh pohan aple dengan gembira.
Pohon Apel : Ayo kita bermain lagi.
Anak Kecil : Aku sudah dewasa dan telah menikah. Aku tidak punya waktu untuk bermain lagi. Aku harus bekerja dan membuatkan sebuah rumah untuk keluarga agar terlindung pans dan hujan
Pohon Apel : Maaf aku pun juga tidak punya rumah. Tapi kamu bisa mengambil rantingku untuk kamu jadikan rumah.
Anak Kecil : Benarkah? Terima kasih.
Anak kecil itu pun memangkas semua ranting dan dahan dari pohon aple hingga tinggal batangnya saja. Tapi pohon apel merasa bahagia karena telah membuat anak kecil itu bahagia. Ketika telah selesai, anak kecil itu pun kembali pergi meninggalkan pohon apel dengan wajah gembira. Pohon apel pun tersenyum bahagia.

Pohon apel tinggal batangnya saja, dan juga tinggal kerinduannya akan anak kecil itu yang tak pernah datang lagi. Hingga suatu hari datanglah anak kecil itu dengan tubuh tuanya. Pohon apel sangat bahagia dengan kedatangannya.
Pohon Apel : Ayo kita bermain lagi.
Anak Kecil : Aku sudah letih bekerja, dan tak mau bermain lagi. Aku ingin menikmati masa tuaku berkeliling dunia tapi aku tidak punya perahu.
Pohon Apel : Maaf aku juga tidak punya perahu, tapi kamu bisa mengambil batangku untuk kamu jadikan perahu.
Anak Kecil : Benarkah? Baiklah kalau begitu.
Setelah dipotongnya batang itu, tinggalah pohon apel hanya akar-akarnya saja. Dan anak kecil itu telah pergi berlayar keliling dunia untuk waktu yang lama.

Kemudian suatu hari datanglah anak kecil itu dengan tubuh yang makin renta dan menghampiri pohon apel. Dengan sedih pohon apel berkata
Pohon Apel : Maaf anakku, aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk aku berikan kepadamu.
Anak Kecil : Tidak. Aku sudah tidak lagi menginginkan apapun saat ini. Aku sudah tidak bisa makin apel, karena gigiku tilah ompong, aku sudah tidak bisa membangun rumah atau pun pergi jalan-jalan karena tubuhku sudah renta. Aku hanya ingin duduk bersandar dan istirahat karena aku sudah letih.
Pohon Apel : Tahukah kamu, bahwa akar-akar yang tuan ini adalah tempat terbaik untuk bersandar dan beristirahat.
Maka anak kecil itu pun segera merebahkan tubuhnya ke akar-akar tua itu dan memejamkan mata.

Anak Kecil itu dengan kejam mengambil semuanya dari pohon apel, tapi pohon apel tetap bahagia hanya dengan melihat kebahagiannya. Anak kecil itu adalah kita. Kita hanya akan datang kepada orang tua kita disaat kita dalam kesusahan tapi mereka tidak pernah mengeluh dan protes kepad kita. Betapa kejamnya kita jika demikian.

Dari kisah ini bisa di berikan sebuah catatan berikut ini :
ORANG TUA DENGAN KASIH SAYANGNYA MERAWAT DAN MENGASUH KITA DAN BAHKAN MELAKUKAN SEGALANYA AGAR KITA MENDAPATKAN DALAM KONDISI YANG TERBAIK. KEMUDIAN KITA MULAI MENDEWASA DAN MANDIRI, TAPI ORANG TUA MASIH MEMPERHATIKAN KITA DENGAN TULUS. SAAT KITA TELAH BENAR-BENAR BAHAGIA DENGAN KEHIDUPAN KITA, KITA CENDERUNG SADAR ATAUPUN TIDAK MENYISIHKAN ORANG TUA KITA, TAPI MEREKA TERSENYUM DENGAN TULUS KEPADA KITA. BAHKAN DISAAT MEREKA DALAM KEADAAN TERSULIT SEKALIPUN, MEREKA TIDAK INGIN MEMBERATKAN KITA. BILA SAAT INI KITA HANYA PEDULI SAJA KEPADA MEREKA, ITU TIDAK BISA MENEBUS KETULUSAN MEREKA WALAUPUN SEBIJI PADI PUN. MAKA MULAILAH BERSUNGGUH-SUNGGUH BERUSAHA UNTUK MEMASTIKAN ORANG TUA KITA DALAM KEADAAN BAHAGIA DI MASA TUANYA.

Demikian posting dari SANG MUJUR semoga membawa manfaat bagi kita semua. Dan terima kasih atas kunjungannya. 

Artikel yang mungkin ingin Anda baca :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda untuk kami kunjungi balik, dan terima kasih.