Minggu, 26 Maret 2017

LEADERSHIP ALA JAWA

Fuad Hasan:
#SEMANGAT_PAGI

LEADERSHIP ALA JAWA

Ketika kita mendengar kata "JAWA" banyak orang yang berpikir, "kuno, klenik, dan mitos". Meskipun pemikiran itu tidak 100% salah, akan tetapi juga tidak 100% benar.

Ajaran dari nenek moyang orang jawa sering disebut dengan "kejawen" ini lebih mengutamakan tentang hal yang bersifat spiritual, lebih condong ke hal-hal yang bijaksana. Karena orang dulu meyakini bahwa "Budi yang luhur berawal dari pemikiran yang bijaksana". Oleh sebab itu orang jawa memiliki tata krama yang lebih kompleks.

Misalnya dalam bertutur bahasa, orang jawa memiliki aturan, saat kita berbicara pada orang yang lebih muda atau sebaya kita boleh menggunakan bahasa lugas atau "ngoko", contohnya untuk memanggil "kamu" bisa menggunakan "kowe/awakmu". Untuk berbicara kepada orang lebih tua menggunakan "kromo andhap" contohnya untuk "kamu" menggunakan "sampean". Untuk berbicara kepada orang yang dihormati menggunakan "kromo inggil" contoh "kamu" menggunakan "panjenengan"

Ya begitulah orang jawa. Tapi saat ini saya tidak ingin membahas adat jawa, melainkan LEADERSHIP ALA JAWA. Karena sebelum para pakar leadership memberikan formula-formula yang mahal harganya, leluhur orang jawa telah merumuskan untuk menjadi seorang leader yang top markotop.

Apakah ajaran leluhur orang jawa itu :
*ING NGARSO SUNG TULODHO
Artinya, saat di depan di memberikan contoh
*ING MADYO MANGUN KARSO
Artinya, saat di tengah-tengah memberi semangat
*TUT WURI HANDAYANI
Artinya, saat dibelakang mengatur dengan bijaksana.

Kalau dijabarkan satu-persatu saat ini akan menjadi pembahasan yang panjang karena ada unsur-unsur kebudayaan yang dipertimbangkan.

Secara garis besar, 3 ajaran di atas menyiratkan pesan : seorang pemimpin bukan hanya bisa mengatur dan memerintah, akan tetapi harus bisa bertindak sehingga bisa dijadikan contoh dan semangat.

Sekian dari saya -fuad hasan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda untuk kami kunjungi balik, dan terima kasih.